Tiba-tiba, dari antara pepohonan yang lebat, seorang pria bercadar muncul dan menyerang dengan kecepatan luar biasa.

ZINGG!

Sebuah bilah pedang meluncur dengan kilatan dingin, menyasar langsung ke salah satu prajurit. Komandan Jiang, yang sudah waspada sejak awal, segera bergerak. Dengan gerakan cepat, dia menarik pedangnya dan menangkis serangan itu.

CLANG!

Suara benturan logam menggema di antara pepohonan.

"Serangan ini...! Dia bukan orang biasa!" batin Komandan Jiang, merasakan kekuatan lawannya yang cukup kuat dan dialiri Qi. "Master foundation perak tingkat menengah!"

Merasa tidak ada anak buahnya yang mampu menghadapi, tanpa ragu, Komandan Jiang yang memiliki kekuatan master foundation tingkat perak akhir, segera maju menghadapi pria bercadar itu. Keduanya saling bertukar serangan dengan kecepatan tinggi, menciptakan gelombang energi yang mengguncang tanah di sekitar mereka. Dua prajurit yang berada di dekatnya, keduanya berada di tahap foundation Qi perunggu awal, melihat pertempuran itu mereka bersiaga dan membuat perlindungan agar prajurit lainnya tidak terkena dampak pertarungan, sekaligus menjaga putri walikota dari serangan musuh.

Namun, pria bercadar itu tampaknya sudah memperhitungkan segalanya. Dia tahu tidak akan mampu mengalahkan komandan Jiang, sehingga sambil bertarung, dia sengaja memancing Komandan Jiang menjauh dari rombongan. Setiap serangan dan langkahnya seolah-olah mengarahkan komandan Jiang semakin dalam ke hutan.

Komandan Jiang mulai menyadari keanehan ini. "Dia tidak berniat bertarung... Dia hanya ingin mengulur waktu dan memisahkanku dengan rombongan, bahaya, aku harus segera kembali.!"

Sementara itu, di tempat lain—sesaat setelah Komandan Jiang dan lawannya menjauh—pasukan bercadar lain muncul dari bayang-bayang pepohonan.

SWOOSH!

Tiga orang dengan kultivasi master foundation perunggu—dua di tahap awal dan satu di tahap akhir—muncul bersama anak buahnya dan langsung menyerang rombongan Li Wei.

Serangan mereka begitu cepat dan terkoordinasi. Para prajurit yang berjaga berusaha melawan, tetapi mereka kalah jumlah dan terutama kalah tingkat kultivasi. Dalam waktu singkat, para penyerang berhasil melumpuhkan seluruh rombongan.

Li Wei, yang memiliki kultivasi master foundation perunggu tingkat awal, mencoba melawan. Dengan cepat, dia mengeluarkan pedangnya dari cincin penyimpanan dan menyerang salah satu pria bercadar.

SWISH!

Tebasan pedangnya meluncur dengan kekuatan penuh. Namun, lawannya hanya tersenyum di balik kain penutup wajahnya sebelum menangkis serangan itu dengan mudah.

CLANG!

Pedangnya terpental, dan sebelum dia sempat melakukan serangan lain, tangan kuat mencengkeram lengannya.

"Kau cukup kuat untuk ukuran seorang gadis, tapi masih terlalu lemah melawan kami," ujar pria bercadar dengan suara mengejek.

Li Wei meronta, tetapi cengkeraman itu semakin kuat. Dalam sekejap, dia merasakan aliran energi spiritualnya terganggu.

"Segel energi? Mereka tahu cara mengunci kultivasi seseorang?!" batinnya panik.

Sebelum dia sempat berteriak, salah satu pria bercadar mengikatnya dan seorang lagi menutupi mulutnya dengan kain.

"Mmphh...!"

Tak lama kemudian, Komandan Jiang yang sudah menyadari sesuatu sedang tidak beres, bergegas kembali ke tempat semula dengan mengerahkan jurus kaki angin, yang dapat membuatnya menempuh perjalanan dengan cepat. Namun, begitu dia tiba, yang dia temukan hanyalah jejak pertarungan singkat dan beberapa prajurit yang tergeletak tak sadarkan diri. Beberapa prajurit terlihat berusaha berdiri dengan tubuh terluka.

Putri Li Wei sudah tidak ada.

Wajah Komandan Jiang berubah pucat. "Celaka!"

Lalu, dari balik pepohonan, suara dingin terdengar.

"Kamu datang terlambat komandan Jiang Rui."

mendengar suara itu, Komandan Jiang dan prajuritnya segera mengangkat senjata, bersiap menghadapi kemungkinan terburuk. Beberapa pria bercadar muncul dengan santai, dan salah satu dari mereka—yang jelas merupakan pemimpin kelompok itu—melangkah maju.

"Lepaskan Nona Li Wei!" teriak komandan Jiang dengan marah.

"Komandan Jiang, jika kau ingin menyelamatkan putri Walikota, maka penuhi dulu permintaan kami!" katanya dengan nada mengejek. "Serahkan seribu batu spiritual tingkat rendah sebagai tebusan. Jika tidak, jangan harap bisa melihatnya lagi."

Mata Komandan Jiang membelalak marah. "Keparat! Apa tujuan kalian sebenarnya?! Kota Huoling tidak punya banyak batu spiritual! Kau tahu itu!"

"Tentu saja kami tahu," pria itu tertawa kecil. "Tapi justru itulah yang membuat ini semakin menarik. Jika kalian tidak bisa membayarnya... yah, mungkin Walikota Li Cheng bisa mencari cara lain untuk mendapatkan putrinya kembali."

Komandan Jiang mengepalkan tinjunya, berusaha menahan amarah.

Penculikan ini jelas lebih dari sekadar meminta tebusan. Ada sesuatu yang lebih besar di baliknya.

"Cepat, laporkan kejadian ini kepada Walikota. Katakan bahwa kami menunggu instruksi selanjutnya!" perintah Komandan Jiang dengan suara tegas kepada salah satu anak buahnya.

Pria bercadar yang mendengar itu tertawa kecil, suaranya penuh ejekan. "Bagus! Sambil menunggu mereka datang membawa tebusan, bagaimana kalau kita bersenang-senang dulu?" katanya dengan nada santai, seolah-olah penculikan ini hanyalah permainan baginya.

Dia kemudian menoleh ke salah satu anak buahnya—orang yang sebelumnya bertarung melawan Komandan Jiang. "Kau, hadapi dia lagi! Aku ingin melihat sendiri apakah Komandan Jiang memang sehebat yang dikatakan orang-orang."

Pria yang ditunjuk segera melangkah maju, sikapnya penuh percaya diri. "Komandan Jiang, aku harap kali ini kau bisa bertahan lebih lama," katanya dengan senyum meremehkan.

Komandan Jiang menatapnya tajam. Dia sudah pernah menghadapi pria ini sebelumnya dan mengetahui bahwa pria itu berada satu level di bawahnya—master foundation perak tahap menengah. Namun, yang membuatnya khawatir adalah pemimpin mereka. Dari cara pria bercadar itu membawa diri, serta bagaimana dia menyembunyikan kekuatan sejatinya, Komandan Jiang yakin bahwa pria itu jauh lebih kuat dari yang terlihat.

"Ini bukan pertarungan biasa. Mereka sudah menyiapkan segalanya sejak awal," batin Komandan Jiang, mempererat genggamannya pada pedangnya. Dia tahu, jika mereka ingin membawa pulang Nona Li Wei dengan selamat, mereka harus bertahan sampai bala bantuan datang.

Di tengah hutan yang sunyi, suasana semakin menegang. Angin berdesir membawa aroma tanah dan darah yang mulai mengering.

Komandan Jiang berdiri tegap, jemarinya menggenggam erat gagang pedang. Tatapan tajamnya terfokus pada pria bercadar di depannya—lawan yang sebelumnya pernah ia hadapi. Mereka berdua sama-sama berada di tahap Master Foundation Perak, tetapi pria bercadar itu jelas berada satu level di bawahnya. Namun, ada sesuatu yang terasa berbeda kali ini.

"Aku sudah pernah bertarung dengannya," pikir Komandan Jiang, mempererat cengkeramannya. "Tapi ada sesuatu yang berubah... sesuatu yang membuatku tidak nyaman. Aku merasa dia sangat percaya diri, pasti ada sesuatu yang diandalkannya."

Pria bercadar itu melangkah maju dengan santai, suara tawanya terdengar meremehkan. "Komandan Jiang, katanya kau ahli pedang yang hebat, tapi saat kita bertarung tadi, aku tidak melihat kehebatanmu sama sekali."

Komandan Jiang tidak terpancing oleh provokasi itu. Napasnya tetap stabil saat ia mengambil posisi bertahan. "Jangan banyak bicara. Jika ingin bertarung, maju saja!"

SREEENG!

Dalam sekejap, pria bercadar itu melesat, pedangnya berkilat di bawah cahaya redup hutan, dilingkupi aliran Qi yang berdesir liar di sekelilingnya.

CLANG!

Benturan pedang mereka menciptakan suara nyaring yang menggema, membuat tanah di sekitar mereka bergetar. Debu beterbangan, terdorong oleh tekanan energi yang terpancar dari kedua tubuh mereka.

Dari serangan itu saja, perbedaan kekuatan sudah terlihat. Pria bercadar itu terdorong mundur beberapa langkah, tetapi ekspresinya tidak menunjukkan ketakutan sedikit pun. Dalam sekejap, ia kembali menerjang, melancarkan serangan kedua, ketiga, dan keempat secara beruntun!

SWISH! SWOOSH! CLANG!

Komandan Jiang tetap tenang, pedangnya bergerak dengan presisi. Ia membalas setiap serangan dengan lebih cepat, mengimbangi tekanan yang diberikan lawannya.

Pria bercadar itu tertawa, lalu mengeluarkan sebuah pil dari balik pakaiannya dan meminumnya. Dalam sekejap, kekuatannya meningkat drastis. Kekuatan mereka menjadi seimbang.

"Pil apa yang diminumnya?" batin komandan Jiang yang semakin waspada.

"Babak berikutnya kita mulai lagi." katanya dengan nada sinis. Aura di tubuhnya terasa semakin meningkat drastis dan Qi yang dimilikinya terkumpul dipedangnya. Dengan segera dia melompat tinggi dan mengayunkan energi pedangnya ke arah komandan Jiang.

Menggunakan langkah angin yang dimilikinya, komandan Jiang menghindari semua serangan, dan menyerang balik dengan tebasan energi miliknya.

